skip to main |
skip to sidebar
Cinta Sejati Pasangan Emas Olimpiade
KECINTAAN
Alan Budikusuma (42) dan Susy Susanti (39) pada bulutangkis tak pernah
berhenti. Alan yang menghabiskan sebagian besar karirnya bersama PB
Djarum sejak 1986 hingga pensiun pada 1997, tetap memperhatikan
perkembangan dunia bulutangkis.
”Idealnya pembinaan ini
melibatkan pemerintah. Terutama untuk soal dana. Sulit jika mengharap
swasta terus menerus. Djarum merupakan salah satu klub yang konsisten
dalam pembinaan. Kontribusinya luar biasa,” ujar Alan seperti rilis yang
diterima okezone, Jumat (22/10/2010).
Sedangkan Susy yang sejak
SMP sudah memutuskan serius di bulutangkis juga mempunyai harapan akan
munculnya bibit-bibit potensial jika para atlit dibina secara benar dan
serius.
Berkaitan dengan hari kasih sayang buat mereka kasih
sayang tak harus diperlihatkan di hari Valentine yang jatuh pada 14
Februari. Mereka yang sudah menikah sejak 1997 ini menilai justru pada
keseharian, ungkapan atau bentuk kasih sayang lebih memiliki makna.
“Kami
memang jarang merayakan secara spesial Hari Kasih Sayang atau
Valentine. Soalnya menurut kami, kasih sayang itu harus selalu
ditunjukkan dan diberikan setiap hari, sepanjang tahun,” lanjut Alan.
Mungkin
banyak orang tak mengira bahwa perjalanan cinta yang berujung pada
pernikahan Alan-Susy ini berjalan mulus sejak awal. Menurut Alan, mereka
banyak menemui kesulitan saat awal menjalin hubungan di pertengahan
tahun 80-an.
“Ketika itu kami baru masuk ke pelatnas. Kondisi
pelatnas tidak sebebas seperti sekarang. Pelatih seringkali mendoktrin
kami kalau pacaran akan membuat presasi terhambat. Padahal kan tidak
selalu seperti itu. Tak cuma pelatih, orangtua kami pun akhirnya
memiliki pandangan serupa,” kata Alan.
”Makanya sejak dulu kami
tidak punya tradisi merayakan hari Valentine secara khusus. Bagaimana
mau merayakan? Kehidupan di asrama tidak memungkinkan kami untuk
melakukan hal itu. Lagipula, kebetulan kami sama-sama bukan orang yang
romantis,” tambah Susy.
Kisah cinta Alan-Susy dimulai ketika
mereka masuk ke pelatnas pada tahun 1985. Ketika itu, lantaran banyaknya
hambatan, mereka berpacaran secara diam-diam alias backstreet. ”Ketika
itu, kalau kami kalah langsung ada anggapan kami kalah karena kebanyakan
pacaran. Padahal hal itu kan tidak sesuai konteks. Kami kalah karena
misalnya, kurang persiapan,” tutur Alan.
Meski pada saat awal
pacaran mereka berjalan secara backstreet, Alan dan Susy tetap bisa
menunjukkan bentuk perhatian dan kasih sayang. ”Kami selalu saling
support satu sama lain. Contoh kecilnya, kalau Alan mendapat giliran
latihan malam, saya menyiapkan air panas untuk dia mandi,” kenang Susy.
Ketika
itu, para atlet pelatnas masih berlatih di kawasan Senayan. Jumlah
lapangan yang belum banyak membuat mereka harus berlatih secara
bergiliran. Tak heran jika selalu ada yang mendapat giliran berlatih
hingga malam hari. Perhatian yang kurang lebih mirip dilakukan Alan
terhadap Susy. ”Kalau giliran Susy yang latihan malam, saat pulang
biasanya saya jemput,” kata Alan.
Untuk membuktikan bahwa
hubungan yang mereka jalin tidak menimbulkan efek negatif, Alan dan Susy
bertekad untuk memberi bukti berupa prestasi. ”Ya harus dengan
prestasi. Tanpa menunjukkan prestasi, tentu sulit bagi kami untuk
mendapatkan restu. Baik dari pelatih ataupun dari orangtua
masing-masing,” jelas Alan.
Prestasi puncak Alan dan Susy adalah
ketika mereka menyabet medali emas nomor tunggal putra dan putri
Olimpiade Barcelona 1992. Prestasi itu begitu fenomenal dan tak akan
terlupakan, karena medali tersebut adalah emas pertama yang diraih
Indonesia di kancah Olimpiade. Hingga saat ini, belum pernah ada yang
menyamai prestasi mereka menjadi pasangan yang merebut medali emas dan
dijuluki pasangan emas Olimpiade.
Kini setelah menikah, pasangan
ini tetap menunjukkan perasaan dan kasih sayang dengan cara yang lain.
Kasih sayang mereka kini juga dilimpahkan pada tiga buah hati, Laurencia
Averina (11), Albertus Edward (9), dan Sebastianus Fredrik (6).
”Kita
bersama membesarkan anak-anak. Itu juga bentuk komitmen dan kasih
sayang kami,” kata Alan. ”Terkadang kami berdua sempatkan untuk pergi
makan berdua. Bagaimanapun, cara seperti itu amat terasa untuk menjaga
kasih sayang. Tanpa komitmen dan kasih sayang tentu kami tak akan bisa
memelihara hubungan ini,” tambah Susy.
Meskipun telah pensiun
Susy masih bisa menorehkan prestasi dengan menjadi manajer tim
mengantarkan tim Piala Uber Indonesia menempati posisi runner up di
perebutan Piala Uber 2008 di Jakarta.
Data Diri :
Alan
Budikusuma
Lahir: Surabaya, 29 Maret 1968
Prestasi:
Medali Emas
Olimpiade Barcelona 1992
Juara Malaysia Open 1995
Juara Indonesia
Open 1993
Juara Jerman Open 1992
Juara China Open 1991
Juara
Thailand Open 1989 dan 1991
Juara Belanda Open 1989
Susy
Susanti
Lahir: Tasikmalaya, 11 Februari 1971
Prestasi:
Medali
Emas Olimpiade Barcelona 1992
Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996
Juara
Kejuaraan Dunia 1993
Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994
Juara
World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996
Juara
Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997
Juara Malaysia
Open 1993, 1994, 1995, dan 1997
Juara Jepang Open 1992, 1994, dan
1995
Juara Korea Open 1995
Juara Belanda Open 1993
Juara
Denmark Open 1991 dan 1992
Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan
1994
Juara Swedia Open 1991
Juara China Taipei Open 1991 dan 1994
Juara
Piala Uber 1994 dan 1996 (Tim Piala Uber Indonesia)(fmh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar