aBoUt aFwAn

Nama saya Dewi Rakhmawati,dilahirkan dengan selamat oleh ibu saya pada 2 February 1994.saya lebih banyak pendiam dan kadang ceria tergantung suasana hati.selalu mendengarkan suara hati dalam memutuskan masalah.sedikit barbicara namun banyak manfaat.Aku menyukai sesuatu yang bermanfaat dan berusaha menciptakan sesuatu yang bermanfaat.Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi jadi keinginanku sejalan dengan garis Tuhan sang pemilik hidupdan percaya bahwaDia adalah sutradara yang paling handal.

Aswan ya sahlan..................

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Minggu, 16 Januari 2011

Dalam Mihrab Cinta: Kejujuran yang Mahal Harganya



Detail Berita


Untuk menyempurnakan ilmu agamannya, Syamsul Hadi (Dude Harlino) memutusakan untuk mondok di sebuah pesantren Al-Furqan di daerah Kediri.

Sayang, kehidupan pesantren, tidak seperti ada dalam benaknya selama ini. Burhan (Boy Hamzah), teman sekamarnya di pesantren yang selalu terlihat baik di depan Syamsul justru memfitnahnya mencuri.

Tuduhan yang dialamatkan Burhan kepada Syamsul, membuat dirinya rela menerima perlakuan kasar dari semua santri di pesantren hingga babak belur dan digunduli habis rambutnya.

Tidak itu saja, Syamsul pun diusir secara tidak baik dari pesantren. Bahkan karena kasus itu, Syamsul pun terpaksa mendekam di balik jeruji.

Saat kembali ke rumah, keluarganya pun tak diterima dan di percaya atas penjelasannya kejadian sebenarnya. Merasa tidak ada yang mau percaya terhadap dirinya, Syamsul memutuskan untuk hidup di jalanan.

Karena tekanan yang terus menghantui dirinya, akhirnya dia benar-benar mencopet kali ini.

Dompet Sylvie (Asmirandah), tunangan Burhan menjadi salah satu korbannya. Mengetahui hal itu, Syamsul pun memiliki niat untuk membalas perlakuan Burhan dulu saat di pesantren.

Berbekal alamat di KTP Sylvie, Syamsul pun nekat mencari rumahnya. Pertemuan pun terjadi antara Sylvie dan Syamsul.

Kamis, 16 Desember 2010

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA
                        Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?" Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Quran sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka." Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka." Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa." Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

Selasa, 30 November 2010

Cinta Sejati Pasangan Emas Olimpiade

KECINTAAN Alan Budikusuma (42) dan Susy Susanti (39) pada bulutangkis tak pernah berhenti. Alan yang menghabiskan sebagian besar karirnya bersama PB Djarum sejak 1986 hingga pensiun pada 1997, tetap memperhatikan perkembangan dunia bulutangkis. ”Idealnya pembinaan ini melibatkan pemerintah. Terutama untuk soal dana. Sulit jika mengharap swasta terus menerus. Djarum merupakan salah satu klub yang konsisten dalam pembinaan. Kontribusinya luar biasa,” ujar Alan seperti rilis yang diterima okezone, Jumat (22/10/2010). Sedangkan Susy yang sejak SMP sudah memutuskan serius di bulutangkis juga mempunyai harapan akan munculnya bibit-bibit potensial jika para atlit dibina secara benar dan serius. Berkaitan dengan hari kasih sayang buat mereka kasih sayang tak harus diperlihatkan di hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari. Mereka yang sudah menikah sejak 1997 ini menilai justru pada keseharian, ungkapan atau bentuk kasih sayang lebih memiliki makna. “Kami memang jarang merayakan secara spesial Hari Kasih Sayang atau Valentine. Soalnya menurut kami, kasih sayang itu harus selalu ditunjukkan dan diberikan setiap hari, sepanjang tahun,” lanjut Alan. Mungkin banyak orang tak mengira bahwa perjalanan cinta yang berujung pada pernikahan Alan-Susy ini berjalan mulus sejak awal. Menurut Alan, mereka banyak menemui kesulitan saat awal menjalin hubungan di pertengahan tahun 80-an. “Ketika itu kami baru masuk ke pelatnas. Kondisi pelatnas tidak sebebas seperti sekarang. Pelatih seringkali mendoktrin kami kalau pacaran akan membuat presasi terhambat. Padahal kan tidak selalu seperti itu. Tak cuma pelatih, orangtua kami pun akhirnya memiliki pandangan serupa,” kata Alan. ”Makanya sejak dulu kami tidak punya tradisi merayakan hari Valentine secara khusus. Bagaimana mau merayakan? Kehidupan di asrama tidak memungkinkan kami untuk melakukan hal itu. Lagipula, kebetulan kami sama-sama bukan orang yang romantis,” tambah Susy. Kisah cinta Alan-Susy dimulai ketika mereka masuk ke pelatnas pada tahun 1985. Ketika itu, lantaran banyaknya hambatan, mereka berpacaran secara diam-diam alias backstreet. ”Ketika itu, kalau kami kalah langsung ada anggapan kami kalah karena kebanyakan pacaran. Padahal hal itu kan tidak sesuai konteks. Kami kalah karena misalnya, kurang persiapan,” tutur Alan. Meski pada saat awal pacaran mereka berjalan secara backstreet, Alan dan Susy tetap bisa menunjukkan bentuk perhatian dan kasih sayang. ”Kami selalu saling support satu sama lain. Contoh kecilnya, kalau Alan mendapat giliran latihan malam, saya menyiapkan air panas untuk dia mandi,” kenang Susy. Ketika itu, para atlet pelatnas masih berlatih di kawasan Senayan. Jumlah lapangan yang belum banyak membuat mereka harus berlatih secara bergiliran. Tak heran jika selalu ada yang mendapat giliran berlatih hingga malam hari. Perhatian yang kurang lebih mirip dilakukan Alan terhadap Susy.  ”Kalau giliran Susy yang latihan malam, saat pulang biasanya saya jemput,” kata Alan. Untuk membuktikan bahwa hubungan yang mereka jalin tidak menimbulkan efek negatif, Alan dan Susy bertekad untuk memberi bukti berupa prestasi. ”Ya harus dengan prestasi. Tanpa menunjukkan prestasi, tentu sulit bagi kami untuk mendapatkan restu. Baik dari pelatih ataupun dari orangtua masing-masing,” jelas Alan. Prestasi puncak Alan dan Susy adalah ketika mereka menyabet medali emas nomor tunggal putra dan putri Olimpiade Barcelona 1992. Prestasi itu begitu fenomenal dan tak akan terlupakan, karena medali tersebut adalah emas pertama yang diraih Indonesia di kancah Olimpiade. Hingga saat ini, belum pernah ada yang menyamai prestasi mereka menjadi pasangan yang merebut medali emas dan dijuluki pasangan emas Olimpiade. Kini setelah menikah, pasangan ini tetap menunjukkan perasaan dan kasih sayang dengan cara yang lain. Kasih sayang mereka kini juga dilimpahkan pada tiga buah hati, Laurencia Averina (11), Albertus Edward (9), dan Sebastianus Fredrik (6). ”Kita bersama membesarkan anak-anak. Itu juga bentuk komitmen dan kasih sayang kami,” kata Alan. ”Terkadang kami berdua sempatkan untuk pergi makan berdua. Bagaimanapun, cara seperti itu amat terasa untuk menjaga kasih sayang. Tanpa komitmen dan kasih sayang tentu kami tak akan bisa memelihara hubungan ini,” tambah Susy. Meskipun telah pensiun Susy masih bisa menorehkan prestasi  dengan menjadi manajer tim mengantarkan tim Piala Uber Indonesia menempati posisi runner up di perebutan Piala Uber 2008 di Jakarta. Data Diri : Alan Budikusuma Lahir: Surabaya, 29 Maret 1968 Prestasi: Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992 Juara Malaysia Open 1995 Juara Indonesia Open 1993 Juara Jerman Open 1992 Juara China Open 1991 Juara Thailand Open 1989 dan 1991 Juara Belanda Open 1989 Susy Susanti Lahir: Tasikmalaya, 11 Februari 1971 Prestasi: Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992 Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996 Juara Kejuaraan Dunia 1993 Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994 Juara World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996 Juara Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997 Juara Malaysia Open 1993, 1994, 1995, dan 1997 Juara Jepang Open 1992, 1994, dan 1995 Juara Korea Open 1995 Juara Belanda Open 1993 Juara Denmark Open 1991 dan 1992 Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan 1994 Juara Swedia  Open 1991 Juara China Taipei Open 1991 dan 1994 Juara Piala Uber 1994 dan 1996 (Tim Piala Uber Indonesia)(fmh)

Selasa, 23 November 2010




Seorang pembunuh yang amat kejam telah menghabisi nyawa sembilan puluh sembilan orang. Ia merasa sangat menyesal. Ia mendatangi seorang alim dan bercerita tentang masa lalunya yang kelabu itu. Ia mengutarakan maksudnya untuk bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik. Aku ingin tahu; apakah Tuhan akan mengampuniku?? ia bertanya.

Sang alim rupanya belum cukup banyak belajar. Ia menjawab, Tentu saja kau tak akan diampuni-Nya. Kalau begitu, ujar si pembunuh, lebih baik kau juga kubunuh saja sekalian. Ia pun membunuh alim itu. Kemudian ia bertemu orang alim lain. Ia mengatakan telah membunuh seratus orang. Aku ingin tahu, tanyanya, apakah Tuhan akan mengampuniku jika aku bertaubat?
Alim kedua ini lebih bijak dari yang pertama. Ia menjawab, Tentu saja kau akan diampuni. Bertaubatlah sekarang juga. Aku hanya punya satu nasihat untukmu; jauhilah teman-temanmu yang jahat dan bergabunglah dengan orang-orang yang saleh, karena teman yang jahat akan mendekatkanmu kepada dosa.

Orang itu lalu bertaubat dan menyesali dosa-dosanya. Ia menangis memohon ampunan Tuhan. Kemudian ia pun menjauhi teman-temannya yang jahat dan pergi mencari perkampungan tempat orang-orang saleh tinggal. Namun ketika ia berada di perjalanan, ajalnya tiba.

Malik, Malaikat Penjaga Neraka, dan Ridwan, Malaikat Penjaga Surga, sama-sama datang untuk menjemput ruhnya. Malik berkata bahwa orang itu adalah pendosa besar dan tempatnya di neraka jahanam. Tetapi Ridwan juga mengklaim bahwa orang itu layak masuk surga. Malaikat Ridwan berkata, Orang ini bertaubat dan telah memutuskan untuk menjadi orang baik. Ia sedang menempuh perjalanan ke kampung tempat tinggal orang-orang saleh ketika ajalnya tiba.
Kedua malaikat itu pun berdebat. Jibril datang untuk menyelesaikan masalah. Setelah mendengar pernyataan dari kedua malaikat, Jibril memutuskan, Ukur jaraknya. Jika tanah tempat mayatnya berada lebih dekat kepada orang-orang saleh, maka ia masuk surga; namun jika letak mayatnya lebih dekat kepada orang-orang jahat, ia harus masuk neraka.

Karena bekas pembunuh itu baru saja meninggalkan tempat orang jahat, ia masih terletak dekat sekali dengan mereka. Tetapi karena ia bertaubat dengan amat tulus, Tuhan memindahkan tubuhnya dari tempat ia meninggal ke dekat perkampungan orang saleh. Dan hamba yang bertaubat itu pun diserahkan ke dekapan malaikat penjaga surga.
Tuhan bersabda, Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, Aku akan mendekatkan diri kepadanya satu siku. Apabila dia kembali kepada-Ku sambil berjalan, Aku akan menyambutnya sambil berlari.

Kamu mengaku saja

Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
“Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
“To, kenapa kamu? Berkelahi?”
Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
“Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!”

CeRiTa LuCu.......

Pintu  Akhirat..........
PDF Print E-mail
Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak.
Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.
"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" Ulama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata, "Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain.
Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"
Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana.
Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas dipanggil: Setelah menghadap Bagiri "Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?"
"Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu. "Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu sarat yang akan hamba ajukan."
"Sebutkan syarat itu." kata Baginda Raja.
"Hamba morion Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti.
Pintu alam akhirat." jawab Abu Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.
"Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu."
Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.
Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi, "Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?"
Baginda Raja tidak menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.

Kantong Semar yang Karnivora

kantong semar 
Sewaktu daun masih muda, Kantong  pemangsa pada Nepenthes tertutup. Lantas, membuka ketika sudah dewasa. Namun bukan berarti kantung flora karnivora ini menutup sewaktu masih muda saja. Ia menutup diri ketika sedang mengganyang mangsa. Tujuannya supaya proses pencernaan berjalan lancar dan tidak diganggu kawanan musuh yang siap merebut makanan yang sudah ia peroleh.
Bibir lubang kantung dilengkapi dengan alat penipu. Organ itu berwarna merah serta mampu menebarkan aroma manis. Warna bibir Kantong Semar yang merona serta beraroma manis itu akan memikat dan membuat lengah calon mangsa. Binatang yang terpikat akan tergelincir masuk ke dalam kantung antara yang licin. Cairan asam (enzim proteolase) yang berada dalam kantung tengah lalu mencerna tubuh mangsa itu. Tubuh mangsa naas itu kemudian diolah menjadi garam Posphat dan nitrat yang kemudian diserap oleh kantong Semar.
Tidak semua jenis Kantong Semar  memiliki mangsa favorit yang sama. Semut adalah menu kesukaan bagi  Nepenthes mirabilis namun ada juga yang menyukai rayap seperti N. albomarginata. Ada pula species katung semar yang “vegetarian” alias tak suka menyantap daging tetapi melalap guguran dedaunan dari tumbuhan yang berada di atasnya (Nepenthes ampullaria). Bahkan ada Kantung Semar yang menyukai kotoran burung (Nepenthes lowii).